BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA – Minggu, 28 Apr 2019

Iman adalah syarat utama untuk menjadi orang Kristiani. Seorang yang beriman memercayakan dirinya kepada Allah secara total. St. Agustinus pernah berkata bahwa percaya kepada Allah itu tidak berarti hanya percaya akan keberadaan-Nya saja namun lebih daripada sekedar kelekatan pada suatu kebenaran atas kata-kataNya. Percaya juga berarti hidup dalam sikap penyerahan diri.

Pengakuan Thomas, yang diwartakan dalam Injil hari ini patutlah kita renungkan. Ia menjadi percaya setelah melihat bukti fisik di depan matanya. Dalam Injil hari ini Tuah Yesus ingin menegaskan bahwa percaya yang sejati itu bukan karena melihat dengan panca indrawi, namun sebaliknya percaya berarti mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Pernyataan Tuhan Yesus pada bagian akhir Injil menegaskan kepada kita “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”.

Dengan perayaan Minggu Kerahiman Ilahi pada minggu ini, gereja ingin mengajak seluruh umat supaya meningkatkan sikap penyerahan diri secara terus-menerus kepada Tuhan Yesus, secara total, seutuhnya, sehingga terbentuk sebuah ikatan kasih istimewa yang membebaskan. Sikap penyerahan diri harus didasari kesadaran bahwa Allah adalah kasih yang mengasihi semua manusia sekalipun mereka berbuat dosa.

Surat pertama Rasul Yohanes mengatakan bahwa kasih yang sempurna itu melenyapkan ketakutan. Kasih Kristus yang membebaskan akan mendorong kita juga untuk membebaskan orang lain dari belenggu hidup mereka, meringankan beban-beban penderitaan mereka. Pengalaman para Rasul ini menunjukkan kepada kita bahwa percaya itu menjadi pintu bagi kita untuk menerima kuasa dari Tuha Yesus yang akan memperbaharui seluruh hidup kita.

Akhirnya tidak ada kuasa apapun yang dapat membinasakan kita kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus. Sebab kuasa-Nya jauh lebih besar daripada kuasa apapun bahkan kematian sekalipun. Selamat pesta Kerahiman Ilahi.

Salam dan doa

Print Friendly, PDF & Email