DARI GENERASI KE GENERASI

Generasi I

Persetujuan Raja Louis Napoleon pada tanggal 8 Mei 1807 kepada pimpinan Gereja Katolik di Roma untuk mendirikan Prefektur Apostolik di Hindia Belanda menandai mulainya perkembangan Gereja Katolik di Jakarta. Persetujuan itu ditindaklanjuti dengan datangnya dua orang Imam dari negeri Belanda pada tanggal 4 April 1808 yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr yang diangkat juga sebagai Prefek Apostolik pertama, dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Segera setelah kedatangan dua pastor itu diadakan misa secara terbuka yang pertama kalinya di Batavia (Jakarta) di rumah Doktor F. C. H Assmuss, Kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Setelah menggunakan rumah sebagai tempat misa, pada tanggal 2 Februari 1810 Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah Kapel sederhana dari Gubernur Jenderal Meester Herman Deandles di daerah Senen, yang kemudian direnovasi dan diberkati sebagai Gereja Katolik yang pertama di Batavia dengan Santo Pelindungnya dipilih Santo Ludovikus. Namun Kapel ini ikut terbakar bersama 180 rumah lainnya dalam peristiwa kebakaran di Segitiga Senen tanggal 27 Juli 1826.
 
Melihat kondisi setelah kebakaran, seorang Komisaris Jenderal L. P. J du Bus de Gisignies memberi kesempatan kepada Dewan Gereja Katedral untuk membeli tanah bekas Istana Gubernur Jenderal di pojok barat/utara Lapangan Banteng (dulu dikenal dengan nama Waterlooplein). Pembangunan Gereja Katedral yang pertama kali dimulai tahun 1826 dan diberkati tanggal 6 November 1829 oleh Mgr. Prinsen dan diberi nama Santa Maria Diangkat Ke Surga. Akan tetapi karena kerusakan yang begitu parah, pada tanggal 9 April 1890 Gereja itu roboh, dan untuk sementara waktu perayaan misa dipindah ke dalam garasi kereta kuda.
 
Pada pertengahan tahun 1891 dengan diarsiteki oleh Pastor Antonius Dijkmans SJ, proses pembangunan pembangunan Gereja Katedral yang baru telah dimulai. Walaupun proses pembangunan Gereja ini tidak mulus dan sempat terhenti selama sekitar 7 tahun karena kekurangan dana, serta sakit dan meninggalnya Pastor Antonius Dijkmans SJ, akhirnya pembangunan ini dapat diselesaikan dan Gereja Katedral diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ pada tanggal 21 April 1901.

Generasi II - IV

Perkembangan kota Jakarta yang begitu pesat terutama setelah dibukanya daerah Gondangdia dan Menteng memaksa Pengurus Gereja dan Dana Papa Paroki Katedral mencari sebidang tanah di daerah baru ini. Tanah yang akhirnya dipilih terletak di Soendaweg (Jalan Sunda, kini Jalan Gereja Theresia). Setelah dibangun Pastoran terlebih dahulu pada tahun 1930, pada tahun 1934 pembangunan Gereja baru dapat diselesaikan dan diberkati oleh Pastor A. Th. Van Hoof SJ pada tanggal 2 April 1934 dengan Santa pelindung Santa Theresia.
 
Pada jaman kemerdekaan Paroki Sta. Theresia semakin meluas, hingga pada tahun 1946 dirasakan adanya kebutuhan mendesak untuk membuka stasi baru di jalan Malang yang kemudian menjadi Paroki Santo Ignatius (8 Maret 1949), dan stasi baru pada daerah Kebayoran Baru pada tahun 1951.

Paroki Blok B, Gereja St. Yohanes Penginjil

Perkembangan umat di Kebayoran baru ditindaklanjuti dengan persiapan paroki Blok Q dan Blok B. Gereja Blok B yang berada di Jalan Melawai Raya ini sering juga disebut sebagai “Gereja Bung Karno” karena begitu besarnya perhatian Presiden RI pertama itu dalam proses pembangunan Gereja ini, bahkan secara khusus memberikan saran-saran lisan/tulisan untuk arsitektur Gereja. Gereja yang mampu menampung 800 umat diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. A. Djajasepoetra, SJ pada tanggal 19 Desember 1965.

Paroki Cilandak, Gereja St. Stefanus

Pada sekitar tahun 1969, umat Katolik di sekitar Cilandak tertampung dalam tiga lingkungan yaitu Lingkungan Fransiskus Xaverius, Lingkungan Maria Fatima, dan Lingkungan Kristoforus Paroki Santo Yohanes Penginjil/Blok B – Jakarta Selatan. Kebutuhan adanya paroki, pada tanggal 11 Oktober 1977, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ menetapkan seorang Imam Mark Fortner, SCJ untuk ditempatkan di daerah Cilandak, yang akan dijadikan paroki baru. Pada tanggal 15 Oktober 1977, dikeluarkan Surat Keputusan dari KAJ, yang mengangkat Pastor Mark Fortner, SCJ sebagai Kepala Paroki yang baru, dan demikian tanggal tersebut merupakan tanggal lahir Paroki Santo Stefanus – Cilandak. Bangunan Gereja
 
Paroki Santo Stefanus – Cilandak diresmikan dan diberkati pada tanggal 1 Mei 1981 oleh Uskup Agung Jakarta waktu itu Mgr. Leo Soekoto, SJ dengan disaksikan oleh Bapak H. Tjokropranolo.

Generasi V

Setelah mengalami perkembangan umat yang meluas hingga Ciputat, Pamulang dan Bojongsari, maka salah satu wilayah dalam Paroki St. Stefanus (Wilayah IX) dimekarkan menjadi Paroki tersendiri, Paroki Rasul Barnabas, Paroki kita. Meskipun masih merupakan paroki baru (waktu itu baru berusia 8 tahun), perkembangan umat yang begitu pesat membuat umat Paroki Rasul Barnabas merasakan adanya kebutuhan sebuah paroki baru untukwilayah Ciputat dan sekitarnya.

Generasi VI

Stasi Ciputat dirintis oleh Bapak Petrus Adibrata bersama umat Ciputat dan dinyatakan berdiri pada tahun 1998, dan misa mingguan dilaksanakan di Kapel St. Ignatius Loyola di dalam Kompleks Mabad Rempoa yang dilayani oleh Pastor Noto Pr, dan Pastor Hendaryono. Pengangkatan oleh KAJ dalam SK No. 2023/4.1.8/99 secara resmi mengangkat Pastor Alexius Widianto Pr, dan Pastor Muda Alphonsius Nadi Nugroho, Pr untuk memimpin stasi dengan tugas mempersiapkan berdirinya Paroki Ciputat. Persiapan panjang menjadi paroki membuahkan hasil diresmikannya Paroki Nikodemus, Ciputat pada tanggal 26 April 2003 dan menjadi Paroki generasi keenam dalam KAJ.