Misa Adaptasi Kebiasaan Baru Paroki Pamulang

Pemberian komuni juga menggunakan protokol kesehatan pada misa perdana adaptasi kebiasaan baru, pada Mingguu (20/9/2020). ). Berbeda dengan misa biasa sebelum pandemi, umat yang hadir harus mengikuti sejumlah protokol kesehatan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.

Setelah hampir setengah tahun merayakan perayaan ekaristi di rumah saja melalui siaran daring, Paroki Pamulang menyelenggarakan misa perdana adaptasi kebiasaan baru pada Minggu (20/9/2020). Berbeda dengan misa biasa sebelum pandemi, umat yang hadir harus mengikuti sejumlah protokol kesehatan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.
Misa dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 10.00. Adapun misa ini dipimpin lengkap oleh gembala Paroki Pamulang Gereja Santo Barnabas yaitu Romo Yoseph Sutrisno Amirullah, SCJ, Romo Antonius Yuswita, SCJ, Philipus Adhitya Subono, SCJ, dan Diakon Benediktus Yogie Wandono, SCJ.

Setelah hampir setengah tahun merayakan perayaan ekaristi di rumah saja melalui siaran daring, Paroki Pamulang menyelenggarakan misa perdana adaptasi kebiasaan baru pada Minggu (20/9/2020). Berbeda dengan misa biasa sebelum pandemi, umat yang hadir harus mengikuti sejumlah protokol kesehatan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.
Misa dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 10.00. Adapun misa ini dipimpin lengkap oleh gembala Paroki Pamulang Gereja Santo Barnabas yaitu Romo Yoseph Sutrisno Amirullah, SCJ, Romo Antonius Yuswita, SCJ, Philipus Adhitya Subono, SCJ, dan Diakon Benediktus Yogie Wandono, SCJ.

“Akhirnya setelah sekian lama kita bisa berkumpul kembali di sini. Terima kasih atas kerja keras para panitia yang mengupayakan terselenggaranya misa ini,” ujar Romo Amir saat hendak menutup misa.

Umat yang hadir dibatasi hanya 150 orang atau setara dengan 20 persen dari daya tampung maksimal gereja yang sebanyak 1.000 orang. Hal ini agar umat bisa menjaga jarak satu dengan lain. Sedangkan umat yang tidak menerima undangan tetap dapat merayakan perayaan ekaristi di rumah melalui siaran daring.

Meski tidak sesemarak misa sebelum pandemi, misa berjalan lancar dan tertib. Umat yang hadir mengikuti seluruh protokol kesehatan dan arahan petugas.

Adapun umat yang hadir pada misa perdana adalah para anggota Dewan Paroki Pleno yang memenuhi ketentuan dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Nantinya umat yang menerima undangan adalah yang telah menerima rekomendasi dari pengurus lingkungan. Para penerima undangan nantinya adalah umat yang telah memenuhi kriteria yaitu berbadan sehat, berusia 18-59 tahun, tidak mempunyai penyakit bawaan, dan terdaftar dalam Basis Integrasi Data Keuskupan (BIDUK) Paroki Pamulang.

Peserta yang boleh mengikuti misa harus didaftarkan dulu melalui aplikasi Belarasa dari KAJ, yang selanjutnya mendapatkan undangan yang dikirimkan melalui whatsapp ke nomor masing-masing umat. Umat yang tiba di gereja wajib mengenakan masker dari rumah sepanjang awal misa hingga misa berakhir.

Parkiran kendaraan bermotor pun dibuat berjarak. Ini supaya umat yang turun dari kendaraan tidak berdesak-desakan.

Setibanya di area gereja, petugas akan meminta umat untuk memperlihatkan undangan. Petugas kemudian akan melakukan scan barcode undangan untuk mencatat kehadiran umat.

Setelah itu umat terlebih dahulu diperiksa suhu tubuhnya menggunakan thermo gun. Umat yang diperbolehkan masuk adalah yang bersuhu tubuh di bawah 37,5 derajat celcius.

Kemudian umat dipersilakan untuk mencuci tangan dengan sabun pada sejumlah wastafel yang telah disediakan. Umat lalu diarahkan petugas untuk naik ke lantai atas gereja.

Usai tiba di lantai atas, umat dipersilakan untuk menyumbang kolekte terlebih dahulu. Di sebelah kotak kolekte, terdapat hand sanitizer yang telah disiapkan untuk umat.

Setelah itu umat menuju bangku sesuai dengan nomor yang tertera pada undangan. Posisi duduk umat pun berjarak sekitar 1-2 meter dari umat lainnya. Usai melalui sejumlah protokol itu, umat pun bisa mengikuti perayaan ekaristi.

Saat komuni, petugas menyiapkan semacam kaca plastik antara romo dan prodiakon dengan umat. Hosti diberikan melalui celah bawah kaca plastik itu. Pemberian komuni memperhatikan jaga jarak antrean.

Setelah misa usai, umat harus mengikuti arahan jalan keluar oleh petugas. Umat pun dilarang berkerumun dan dipersilakan untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

Membayar rindu

Umat yang hadir sangat senang dengan terselenggaranya misa perdana adaptasi kebiasaan baru. Martuti Kuntoro (50), dari lingkungan Elizabeth 6, Wilayah 4, sangat senang sekali bisa kembali merayakan perayaan ekaristi di gereja.

“Senang sekali rasanya. Saat dapat undangan, serasa saya dapat undangan dari Yesus sendiri,” ujar Martuti yang ditemui sebelum misa.

Tak hanya umat, petugas koor pun senang dapat bernyanyi kembali di hadapan umat saat misa berlangsung. Meski hanya beranggotakan tiga orang, petugas koor bernyanyi dengan semangat.

“Senang sekali bisa kembali misa dan bernyanyi untuk umat secara langsung,” ujar Bu Murbadi.

Laporan: Benediktus Krisna Yogatama dan Irene Sinaga

Print Friendly, PDF & Email