Perjalanan Waktu Paroki Pamulang Gereja Santo Barnabas

Pada Awalnya

Paroki merupakan suatu komunitas kaum beriman Kristiani dalam persekutuan yang terdiri dari lingkungan-lingkungan yang berfungsi sebagai basis kehidupan Kristiani. Kelompok-kelompok ini merupakan bagian integral dari gereja yang tidak hanya disatukan oleh ikatan geografis saja melainkan karena iman dan panggilan bersama untuk memuliakan Tuhan dan mengembangkan KerajaanNya.

Pada awalnya Wilayah Ciputat, Pamulang dan sekitarnya termasuk Bojongsari adalah merupakan bagian dari wilayah IX dari Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus. Wilayah IX yang cukup luas ini terdiri dari 7 Lingkungan antara lain: Sta. Anastasia, Sta. Anna, Sta. Elizabeth, St. Ign. Loyola, St. Gerardus, Petrus Kanisius dan St. Pius X dimana saat itu umat Wilayah IX ini sudah mencapai 4000-5000 orang.

Pada Retret Wilayah IX di Gadog – Bogor tahun 1987 Romo Pranoto, Pr mencetuskan ide pembentukan Paroki baru untuk Wilayah Ciputat – Pamulang. Atas dasar itu maka Ketua Wilayah IX pada saat itu yaitu Bapak J. Eddie Cahyono Putro dan Ketua-Ketua Lingkungan serta aktivis dan tokoh umat di Wilayah Ciputat dan Pamulang mengadakan retret Wilayah IX tahun 1987 yang dipimpin oleh Romo Pranoto, Pr di Wisma Puri Asih Gadog Bogor meneruskan ide tersebut dan secara khusus pada Retret tersebut mengusulkan kepada Dewan Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus (Pastor Paroki waktu itu Pastor Mark Fortner, SCJ) untuk pemekaran Paroki di Wilayah IX menjadi calon Paroki tersendiri.

Pada tahun 1988 Pastor F.X. Harimurtono, SCJ yang menggantikan Pastor Mark Fortner, SCJ kemudian membentuk Satuan Tugas (Satgas) calon paroki yang diketuai oleh Bapak Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana. Langkah pertama yang sangat mendesak adalah mempersiapkan adanya tempat ibadah yang merupakan awal dari suatu perjuangan bahwa tempat ibadah perlu ada. Pengelola Wisma Kompas mengijinkan umat Ciputat – Pamulang untuk mengadalan misa perdana di Wisma Kompas, Jalan Aria Putra Ciputat dan sebagai Pastorannya mengontrak sebuah rumah di Komplek Kompas Jalan Bawang Merah II No. 5 Ciputat, dengan Pastor gembala pihak Keuskupan menunjuk dan menugaskan Pastor Thomas Ebbo, Pr seorang Pastor ABRI dari Angkatan Udara.

Persiapan Calon Paroki

Langkah selanjutnya Satgas Capar Ciputat-Pamulang Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus adalah memekarkan wilayah IX menjadi 4 (empat) wilayah yaitu wilayah VII, VIII, IX dan X. Tanggal 16 April 1989 keempat wilayah tersebut melaksanakan perayaan Paskah perdana di Wisma Kompas bersama Romo Martosujito, SJ dari Keuskupan Agung Jakarta, Romo F.X. Harimurtono, SCJ dari Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus untuk lebih memperkuat dan mempercepat kearah persiapan pembentukan menjadi calon persiapan pembentukan menjadi calon Paroki baru. Pada saat itu, Satgas belum juga memperoleh jawaban dimana umat Capar Ciputat – Pamulang akan beribadat dan siapa pastor gembalanya.

Akhirnya Satgas berencana bulat untuk menjadikan Wisma Kompas tersebut sebagai sarana ibadah, maka setiap sebulan sekali mengadakan misa di tempat tersebut dcngan Pastor dari Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus. Dari sini antusias umat di Ciputat – Pamulang sangat besar termasuk dalam kegiatan-kegiatan lain. Akan tetapi tiba-tiba muncul kasus Tabloid Monitor (Arswendo Atmowiloto) yang mempunyai dampak tidak diijinkannya penggunaan Wisma Kompas sebagai sarana ibadah & kegiatan kegiatan-kegitan lainnya tersebut.

Di tengah permasalahan tempat ibadah, Suster Lusia Dipoyudo, SPM (Almarhumah) dan para Suster Santa Perawan Maria (SPM) yang melaksanakan amanah dari Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto, SJ bahwa Yayasan Santa Perawan Maria boleh mendirikan sekolah Katolik di Pamulang, memberikan solusi dengan memperbolehkan umat Capar Ciputat – Pamulang menggunakan sarana SD. Strada Sanjaya (SDK Mater Dei) di Witanaharja untuk beribadah (hingga tahun 2009). Kebaikan hati Suster-suster SPM ini membuat Satgas Capar Ciputat Pamulang menjadi lebih fokus kepada masalah persiapan Paroki yang lainnya.

Proses untuk menjadi Paroki terus berlanjut dengan persiapan-persiapan yang memerlukan waktu hampir 3 (tiga) tahun dari terbentuknya Satgas hingga berdirinya Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas tahun 1993. Penataan dan persiapan dalam bidang administrasi, data umat dan lain-lain dilakukan dengan matang dan juga termasuk mempersiapkan calon PGDP serta pengurus Dewan Paroki, yang dipilih dari wakil-wakil umat dari Pamulang maupun Ciputat untuk melaksanakan karya pelayanan umat.

Peresmian Paroki Pamulang Gereja Santo Barnabas

Persiapan panjang berbuah dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto SJ, No. 966/3.25.2 193 tanggal 17 Juli 1993, yang menetapkan pembentukan Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas sekaligus mendirikan Badan Pengurus Gereja Katolik dengan nama: “Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Gereja St. Barnabas” yang berkedudukan di Pamulang.

Peresmian Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas ini ditandai dengan Misa Tri Pria pada tanggal 17 Juli 1993 dengan konselebran utama Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto, SJ bersama dengan Romo F. X. Harimurtono, SCJ dan Romo Hendra Aswardani, SCJ dari Paroki Cilandak Gereja St. Stefanus, Jakarta Selatan. Setelah Misa peresmian Paroki dilanjutkan pemotongan tumpeng tanda diresmikannya Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas, yang dilakukan oleh Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Sukoto, SJ dan diberikan kepada Romo F. X. Harimurtono, SCJ.

Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas merupakan Paroki yang ke 46 di Keuskupan Agung Jakarta dan penggembalaan umat Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas diserahkan kepada Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ).

Setelah resmi menjadi Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas , Wilayah-Wilayah yang ada dimekarkan lagi menjadi 9 Wilayah antara lain

  • Wilayah I meliputi daerah: Kampung Utan, Rengas, Rempoa, Paroki Pondok Ranji;
  • Wilayah II meliputi daerah: Pisangan, Gunung Indah, Pondok Hijau, Perum Cireundeu Indah;
  • Wilayah III meliputi daerah: Pondok Pucung, Bukit Nusa Indah;
  • Wilayah IV meliputi daerah: Ciputat Baru, Perumahan Kompas, Villa Mutiara;
  • Wilayah V meliputi daerah: Bukit Indah, Perumahan Kompas JI.Bawang Merah, Kedaung Ciputat, Taman Kedaung, Perumahan Sarana Indah Permai, Sarua Permai;
  • Wilayah VI meliputi daerah: Perumahan Reni Jaya Pondok Petir, Perumahan Reni Jaya Pondok Benda, Cinangka dan Perumahan Reni Jaya Pamulang Barat;
  • Wilayah VII meliputi daerah: Desa Cipayung, Pondok Cabe Indah, Bumi Pelita Pondok Cabe, Bukit Indah, Bumi Pelita Pondok Cabe, Bukit Pamulang Indah;
  • Wilayah VIII meliputi daerah: Perumahan Pamulang Permai I, Pamulang Barat; Wilayah IX meliputi daerah: Perumahan Pamulang Permai II, Pondok Benda. Keberadaan Wilayah Ciputat masih bergabung dengan Paroki Rasul Barnabas dan berstatus Stasi.

Setelah susunan pengurus Dewan Paroki Periode 1993 – 1996 lengkap, Bapak Uskup Agung Jakarta pada tanggal 31 Oktober 1993 berkenan melantik seluruh pengurus PGDP dan perangkat Dewan Paroki beserta seksi-seksinya. Pelantikan tersebut mengawali perjalanan Paroki dari struktur organisasi dan pengelolaan Paroki. Dalam kegiatan rutinnya Dewan Paroki termasuk didalamnya Wilayah, Lingkungan dan seksi-seksi masing-masing melaksanakan kegiatan menurut bidang dan bagiannya. Dewan Paroki Pleno termasuk didalamnya Komponen Organisasi, Kelompok Kategorial, Komunitas, Yayasan dan lain-lain yang ada bekerjasama satu sama lain untuk memberikan pelayanan kepada umat di Paroki.

Peresmian dan pelantikan Paroki dan pengurusnya memberi dampak yang menguatkan dan memacu paroki untuk maju dan berkembang menjadi gereja yang mandiri dan dinamis. Berkat pelantikan dan peresmian juga menjadi pemicu umat Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas untuk maju dan berkembang mandiri, missioner, berdaya tahan dan berdaya pikat.

Pada awal berdirinya, Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas yang mempunyai daerah teritori Pamulang, Ciputat, Sawangan, Serpong secara geografis terletak di dua otonomi daerah Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.
Namun dengan perkembangan waktu dan adanya pemekaran Propinsi Jawa Barat menjadi dua yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, maka batas paroki secara teritori adalah sebagai berikut:

  • Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Parigi, Bintaro
  • Di sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Pesanggrahan, Cinere
  • Di sebelah Barat Desa Babakan, Cisauk berdekatan dengan Serpong, Kabupaten Tangerang
  • Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bojongsari Kecamatan Sawangan Kodya Depok dan Propinsi Jawa Barat

Batas antar paroki untuk Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas dan Paroki Ciputat Gereja St. Nikodemus ditentukan sebagai berikut: dari Jalan Raya Jombang ke arah Ciputat (JI. Aria Putra), masuk ke Jalan Ir. Haji Juanda belok ke Jalan Legoso ke arah Cirendeu (JI. Tarumanegara) sebelah utara masuk Paroki Ciputat Gereja St. Nikodemus, sebelah selatan masuk Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas. Dari Jalan Tarumanegara ke Jalan Cireundeu Raya sampai jembatan Cireundeu (PDK) sebelah barat masuk Paroki Ciputat Gereja St. Nikodemus, sebelah timur masuk Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas, sebelah timur dari Paroki Pamulang Gereja St. Barnabas berbatasan dengan Sungai Pesanggrahan.

Sehingga Batas Paroki tersebut yang ada sekarang adalah sebagai berikut:

  • di sebelah utara berbatasan dengan Paroki St. Nikodemus Ciputat
  • di sebelah selatan berbatasan dengan Paroki St.Herculanus Depok dan Paroki St. Johanes Baptista, Parung Keuskupan Bogor
  • di sebelah timur berbatasan dengan Paroki St. Matias Cinere, Keuskupan Bogor.
  • di sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Sta. Monika Serpong BSD, Keuskupan Agung Jakarta
Oleh: R. M. Seno